Cara bermain Kami
Rasanya baru kemarin mereka bisa berjalan, kini sekarang mereka sudah menginjak usia remaja. Waktu rasanya begitu cepat berlalu, hingga aku tak menyadari bahwa bocah-bocah yang aku lihat yang masih bahagia dengan dunia permainan petak umpetnya itu kini berada di depanku menjadi teman bermainku, entah ini merka yang tumbuh terlalu cepat atau aku yang terlalu lama tumbuhnya ya...?
Iya, sekarang mereka menjadi teman sepermainanku, tapi bukan main petak umpet lagi ya! Mereka sekarang sudah menginjak usia remaja, jadi mainannya sekarang sudah berubah dong mengikuti perkembangan jaman. Tapi di sini kami bukan sekedar berkumpul bermain biasa, karena kami tidak ingin menghabiskan waktu hanya dengan bersenang-senang tanpa dapat mengambil sebuah pelajaran disetiap waktu yang telah kami gunakan.
Hampir setiap malam kami berencana untuk berkumpul untuk melepaskan kerinduan seteleah seharian tak berjumpa karena menjalani aktivitas masing-masing, jadi kami memilih waktu malam hari menjadi momen tepat untuk berkumpul. Setelah melaksanakan solat isya, kami masing-masing menuju tempat yang dimana biasanya kami berkumpul dengan membawa buku tugas mereka masing-masing.
Sebelum membuka buku tugas, ada hal yang tak pernah kami lewati yaitu makan bersama. Entah apa pun makanannya yang penting kebersamaannya, namun tak jarang yang menjadi teman berkumpul kami adalah sepiring rujak mangga dan mie instan. Momen ini yang paling kami suka, karena disaat titik penghabisannya kami selalu berebutan.
Saat makanan sudah habis kini saatnya mengerjakan tugas masing-masing, dan tugasku di sini menjadi pengawas dan menjelaskan soal yang belum dipahami. Terkadang pusing juga saat mereka semua kompak mempunyai tugas matematika yang dimana memaksaku untuk mengingat-ingat kembali pelajaran SMP, dan SMA. Tak jarang juga aku harus menjelaskan mata pelajaran yang lintas minat denganku dulu waktu masih SMA, terkadang disitulah kami membutuhkan bantuan mbah google agar bisa terselsaikan.
Selain menyelsaikan tugas, ada juga sesi curhatnya, dan di sinilah aku berperan menjadi seorang konselor yakni dengan menjadi pendengar yang baik dan tentunya memberi segenggam semangat dan solusi untuk mereka. Di usia remaja ini mereka sangat membutuhkan tempat curhat, meski mereka terkadang sungkan untuk bercerita, tetapi aku selalu mencoba menggali untuk mencari tahu apa yang sedang menjadi permaslaan mereka. Aku mencoba menjadi seorang kakak yang baik bagi mereka dengan cara seperti ini, mencoba selalu ada saat mereka membutuhkan, terkadang mereka sering mengatakan kepadaku untuk jangan pergi dari mereka, karena mereka merasa takut siapa yang akan mengajar tugas sekolah yang tidak dimengerti.
Kalian adalah temanku, kalian adalah adik-adikku. Kita lahir di tanah yang sama, jadi aku akan terus mencoba agar bisa selalu ada saat kalian membutuhkan. Dan semoga Allah memberikan kita kesehatan agar bisa berkumpul di tempat yang sama, amiin.

Berkumpul memang menyenangkan meskipun dalam wadah dan kegiatan yang sederhana. Kebersamaan memiliki nilai Tak terhingga untuk segala kenikmatannya yang patut disyukuri...
BalasHapusSemoga berkumpul dan belajar bersama ini sebuah tradisi yg tdk pernah hilang, hingga anak anak ku dan cicit cicitku merasakannya juga
BalasHapus