Restu yang tak terucap3
Waktu terus berlalu, luka yang ada dalam diri Dinda perlahan sembuh, ia mulai bisa mengikhlaskan kejadian yang telah menimpanya itu, namun tiba-tiba Dela datang lagi mengusik luka lama yang sepenuhnya belum sembuh. Dela menanyakan kabar Hidayat pada Dinda, sontak membuat hati Dinda kembali terluka karena pertanyaan yang dilontarkan Dela menggambarkan betapa bahagianya mereka setelah kepergiannya.
Meski rasa sakit itu terus bergelut dalam hati Dinda, ia terus mencoba memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja, ia tetap berusaha menjawab pertanyaan Dela dengan hati yang tenang. Dinda mengatakan, bahwa ia telah lama tidak menjalin hubungan dengan Hidayat, jadi ia tidak tahu sama sekali keberadaan Hidayat.
Setelah mendengar jawaban Dinda, Dela merasa bingung tentang Hidayat yang beberapa hari ini sudah menghilang tanpa kabar. Dela merasa hawatir terhadap Hidayat karena tidak biasanya ia seperti ini,Dela terus mencoba menghubungi Hidayat, namun tak ada satu pun respon darinya.
Di sisi lain, Dinda berusaha menenangkan dirinya untuk tidak gelisah memikirkan Hidayat, tapi tetap saja dalam hati kecilnya yang masih memiliki perasaan pada Hidayat membuat dirinya terus memikirkan bagaimana keadaan Hidayat.
Dinda tidak bisa melakukan apa-apa meski hatinya terus menanyakan keadaan Hidayat yang tiba-tiba menghilang. Rasanya Dinda ingin sekali menghubungi Hidayat, namun ia ingin tetap menjaga jarak dengan Hidayat agar hatinya tidak tersakiti lagi. Dinda telah berpasrah kepada Allah, ia terus berdo'a agar Hidayat baik-baik saja dimana pun ia berada.
Hidayat telah hilang selama berbulan-bulan, ia menjauh dari kedua perempuan yang telah dijanjikan untuk ia nikahi. Hidayat sangat merasa bingung dengan apa yang telah ia perbuat, ia sangat merasa bersalah kepada Dinda dan Dela hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Di sana ia terus memperbaiki dirinya, ia semakin mendekatkan dirinya kepada Allah dan terus memohon ampunan atas apa yang selama ini ia perbuat.
Kini Hidayat telah menyadari kesalahannya, ia merasa bahwa dirinya harus memperbaiki segalannya. Hidayat pun mnghubungi Dela dan mengatakan kepada Dela bahwa ia ingi menjaga jarak dengannya, ia tak mau terjerumus dalam dosa lagi karena mengikuti nafsu semata. Selain itu Hidayat mengatakan kepada Dela untuk menyerahkan segalanya kepada Allah,karena jika memang berjodoh pasti kita akan dipertemukan lagi.
Dela pun sadar, ia juga menerima keputusan Hidayat. Meski merasa sangat berat, ia mencoba menjalankan komitmen yang telah ia sepakati dengan Hidayat. Kini Dela merasa begitu kosong selepas mendengar keputusan Hidayat, ia pun terus menjaga jarak dan cintanya itu.
Begitu juga dengan Dinda yang masih bertahan antara cinta dan bencinya itu membuat dirinya terus memperbaiki dirinya dan menyibukkan dirinya dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat. Ia berharap semoga dngan menyibukann diri, ia bisa melupakan yang telah terjadi kepadanya, ia ingin kembali hidup damai tanpa ada rasa benci terhadap Hidayat dan Dela. Ia pun perlahan menghubungi Dela dan menyambung tali silaturahmi kembali.
Kini, Dinda telah menemukan kedamaian dalam hidupnya setelah memaafkan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada dirinya. Sedangkan di sisi lain, Hidayat bingung siapakah yang harus dia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya. Ia pun menceritakan segalanya kepada ibu tercintanya,dan ibunya pun tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi, ibunya tak berkata apa-apa pun karena kecewa terhadap apa yang telah ia lakukan.
Ibu Hidayat pun memutuskan untuk menyelsaikan apa yang telah menimpa anaknya itu, ia pergi menjemput salah satu diantara kedua perempuan yang telah hidayat ceritakan itu.
Hidayat pun merasa takut, namun ia akan menerima siapa pun yang telah ibunya bawa menjadi calon istrinya adalah yang terbaik karena itu adalah pilihan ibunya. Hidayat begitu gelisah menunggu di rumah, namun setelah beberapa hari menunggu akhirnya ibunya pun datang dengan membawa calon istri dan keluarganya. Dan ternyat perempuan yang menjadi pilihan ibunya itu adalah Dinda.
Setelah menemukan kesepakatan antara kedua belah pihak, pernikahan keduanya pun dilangsungkann dengan cara yang sangat sederhana. Kini Hidayat dan Dinda telah resmi menjadi suami istri, namun Dinda masih belum berani memandang suaminya, ia merasa sangat terkejut karena pernikahan ini secara tiba-tiba, tapi entah mengapa tiba-tiba saat Dinda dihadapan Hidayat, tangan dan kakinya bergetar karena ingatannya tentang Hidayat dan Dela itu kembali terbayang sehinnga ia hampir terjatuh, namu tiba-tiba genggaman erat dari ibu mertuanya itu membuatnya kuat dan tatapan mertuanya itu seolah mengatakan bahwa ia harus bertahan dan memulai hidup baru. Dinda juga merasa beruntung, meski ibu mertuanya tak pernah berkata apa-apa, tapi ia melihat pada diri mertuanya itu begitu berlimpahnya restu terhadap dirinya dari setiap genggaman dan rangkulan ibu mertuanya.
Hidayat dan Dinda pun memulai kehidupan barunya dengan menjadi suami istri. Hidayat merasa bahgia karena ibunya telah memilihkan perempuan yang begitu sabar menghadapinya selama ini, meski saat itu Hidayat tak pernah mengatakan bahwa Dinda yang ia inginkan karena ia takut melakukan kesalahan lagi. Mereka pun hidup bahagia dan Dela pun akhirnya menemukan pasangan hidupnya juga.
ODOPbatch7
OneDayOnePost
Komentar
Posting Komentar